Minggu, 29 Juni 2008

JATI DIRI

Nun jauh disana dibalik hamparan alam nan mempesona, diantara hamparan gunung yang menjulang tinggi dan memanjang dari Utara keSelatan, melintasi lembah-lembah dibelakang rimbunan pohon yng memagari jalan-jalan licin berkelok, terdampar sebuah sejarah tentang jati diri seorang anak manusia.

Ketika tangis bayi memecah kehampan, merobek sepi dan mencabik ketegangan yang menggantung diudara tak dapat terelakan sungging senyumpun terhampar luas menelusuri relung qalbu, menapaki sisi hati dan menjejakan kamar jiwa.

Malam itu tept 24 Januari 1990, seorang bayi terdampar diseperempat malam. Matanya tertutupseolah ia enggan menatap cultur kehidupan yang akan ia hadapi, sementara tanganaya menggapai-gapai mencari sebuah petunjuk dan kakinya berkelojotan mencari pijakan. siapa yang bisa mengerti dan siapa yang mau mengerti akan bahasa tangis sang bayi?

Ketika fajar menyingsing, tubuh sibayi menggeliat memanjang, mulutnya menguap lantang, matanya menatap sayu dunia, namun kakinya belum tegap menginjak bumi, tangannya masih menggapai, ia masih mencari sebuah keganjilan yang selalu membayang diwajahnya. mengapa aku terlahir kedunia ni? Untuk apa aku terlahir kedunia ini? Kiranya si bayi perlu merangkak, menggapai, jatuh dan bangun demi sebuah kepastian.

Menapaki perputaran dan paredaran masa, secara bertahap seirama dengan detak jarum jam, pelan tapi pasti. Jalan- jalan yang akan dilalui tak selamanya lurus seperti rel kereta api, tidak pula sedatar padang pasir, adakalanya menyeruak semak belukar, menempuh badai dan gelombang. Namun ia harus tetap melaju dengan semangat baja. Dan kesabaran para penumpang adalah merupakan syarat utama pembuka jalan.